Tradisi Masyarakat “Tana Samawa”

1 comment 2100 views

Dagelan

Dagelan Family – Barapan kebo merupakan tradisi masyarakat agraris Sumbawa termasuk Sumbawa Barat yang hingga kini masih hidup di “Tana Samawa” (nama lain Kabupaten Sumbawa dan Sumbawa Barat). Tradisi ini digelar masyarakat Suku Samawa setiap menjelang musim tanam. Awalnya, tradisi ini dilaksanakan sebagai penghibur ketika musim hujan tiba yang selalu diikuti dengan musim tanam padi. Saat hujan turun, sawah-sawah digenangi air. Pada saat inilah para petani mulai berbondong-bondong mengolah sawah-sawah mereka untuk ditanami, mulai dari membersihkan rumput dan tanaman liar lain, hingga menggemburkan tanah sawah dengan cara membajaknya. Kerbau menjadi hewan utama untuk membantu petani membajak sawah.

Dagelan

Masyarakat kemudian berbondong-bondong membawa ternak kerbau mereka, turun ke sawah-sawah. Kegiatan membajak sawah tentulah merupakan kegiatan yang melelahkan. Karena itu, dalam kondisi fisik yang lelah dan jenuh, para petani membutuhkan hiburan. Naluri seni masyarakat pun akhirnya menginspirasi kegiatan hewan-hewan ini untuk dijadikan hiburan sebagai wujud kegembiraan pada musim tanam padi. Tradisi ini kemudian menjadi pesta rakyat yang dikenal dengan barapan kebo. Kerbau-kerbau yang sebelumnya berfungsi hanya untuk membajak sawah ini akhirnya menjadi penghibur bagi masyarakat.

Dagelan

Pada sawah-sawah yang hendak ditanami, secara bergantian kerbau-kerbau milik masyarakat akan beradu cepat dari satu sawah ke sawah lainnya. Kegiatan ini terus dilakukan secara turun-temurun dan menjadi budaya atau tradisi bagi masyarakat Samawa. Setelah fungsinya tidak lagi hanya membajak sawah, tetapi sebagai hiburan, kegiatan ini dipoles dengan cita rasa seni masyarakatnya.

Seperti halnya dalam setiap perlombaan, pasti ada yang namanya perangkat pertandingan, dalam barapan kebo perangkat pertandingannya terdiri dari sepasang kerbau, lahan tempat lomba, joki atau pengendara, petugas di garis start, petugas di tongkat finish dan petugas pencatat waktu. Garis start tidak ada bedanya dengan garis start pada lomba lari, yang berbeda adalah garis finish, ada semacam tiang / tongkat yang ditancapkan di tengah sawah dan itu yang harus ditabrak sebagai garis finish, namanya adalah sakak.

Dagelan

Kerbau balap tidaklah sembarangan, namun biasanya memiliki ciri khusus berupa pusaran pada bulunya. Tanda itu jumlahnya seimbang pada bagian tubuhnya, misalnya, dua pusaran masing-masing di kiri dan kanan tubuhnya. Yang terbaik, pusaran itu berada pada bagian tengkuk dan di antara kedua mata kerbau. Kepalanya selalu memandang tegak ke depan, dan tanduknya tumbuh sempurna melengkung ke atas. Ciri-ciri itu dimiliki sepasang kerbau yang kelak jadi petarung dalam barapan. Sebelum jadi atlet, duet kerbau dilatih berlari di sungai-sungai yang kebetulan airnya lagi surut, atau di tempat khusus yang disediakan pemilik kerbau. Berapa lama kerbau dilatih sebelum diturunkan ke arena kompetisi, tidak ada target waktunya.

Tekhnik barapan kebo sendiri adalah terdiri dari dua kerbau karapan dan di pasangi “Noga” atau sebatang kayu yang di pasangkan di kedua leher kerbau karapan tersebut dan di tengahnya ada sebatang kayu memanjang kebelakang badan kerbau dan diujung kayu tersebut dipasang “kareng” sebagai tempat joki berpijak, dan dengan “mangkar” (cambuk) sang joki menggiring kerbau dari garis start kearah “sakak” karena untuk memenangkan pertandingan pasangan kerbau tersebut harus menabrak “sakak” (batang kayu yang ditancapak di garis finis). Batas arena lomba juga ditandai kayu disebut pancang. Di dekat sakak berdiri wasit, yang memberi komando dengan peluit saat permainan dimulai. Jadi ini sebenarnya bukan balapan antar kerbau, tapi peserta dilepas satu persatu dan yang tercepat waktunya adalah pemenang.

dagelan

Biasanya joki ini bukanlah pemilik kerbau, mereka hanya bertugas mengendarai kerbau yang akan ikut lomba, tidak mudah menjadi joki, Tugas joki di area barapan kebo tidak hanya mengendarai kerbau. Kecepatan dan cara menyeimbangkan tubuh dalam mengendarai kerbau untuk mengenai sakak juga hal yang tak mudah dilakukan. Belum lagi harus melawan licin dan terganggunya penglihatan saat lomba yang disebabkan oleh lumpur. Banyak joki yang sampai harus terjatuh saat lomba berlangsung.

Yang dicari bukanlah hadiahnya karena memang hadiahnya tidaklah banyak, bahkan biaya yang harus dikeluarkan oleh pemilik kerbau jauh lebih banyak dari hadiah yang disediakan, tapi bagi pemilik kerbau, perlombaan ini adalah pertarungan prestise dan martabat, imbas lainnya adalah pada harga kerbau yang melonjak jika menjadi juara, bahkan katanya sepasang kerbau pemenang bisa dihargai sampai ratusan juta rupiah.

author
One Response
  1. author

    Event Jakarta2 years ago

    Halo Kami dari Event Jakarta ingin berkunjung ke artikel Anda, artikelnya menarik, ijin baca ya.

    Reply

Leave a reply "Tradisi Masyarakat “Tana Samawa”"